Fakultas Kedokteran Unswagati menyelenggarakan seminar dan workshop “Potensi Memanfaatkan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat”

“Kalau anak demam olesi saja bawang merah dan minyak ke badan, sakit tenggorokan minum air rebusan jahe, atau kalau enggak enak badan minumlah jamu.”

Begitulah masyarakat Indonesia yang hingga sekarang begitu percaya akan kehebatan obat tradisional atau herbal. Di Nusantara ini juga ada 30.000 spesies tanaman obat, dari 40.000 yang ada di dunia. Kekayaan hayati tersebut membuat Indonesia menjadi negara paling kaya di dunia.

Untuk semakin mengembangkan potensi pemanfaatan obat herbal terutama yang khas Indonesia, brand jamu ternama Sido Muncul mengadakan ‘Seminar Herbal.’ Seminar ini diselenggarakan hasil kerjasama Sido Muncul dengan Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati), Ikatan Dokter Indonesia, serta Ikatan Apoteker Indonesia pada Sabtu (29/2).

Tema yang diangkat pada seminar yang sudah dilaksanakan untuk ke-46 kalinya ini; yaitu “Potensi Memanfaatkan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat.” Seminar ini diikuti oleh 130 dokter, 101 apoteker, dan 29 undangan.

Acara yang berlangsung mulai jam 08.30 WIB tersebut, dibuka oleh sambutan dari Dekan Fakultas Kedokteran Unswagati dr, M.Med.Ed Catur Setiya Sulistiyana.

“Obat herbal atau tradisional berbeda dengan medis. Penyakit medis disebabkan bakteri, kuman, dan jamur yang disembuhkan dengan obat kimia. Sementara pengobatan herbal bisa digunakan untuk segala macam penyakit, dan pemakaiannya tak bisa dihindari. Misalnya, saya pernah memimpin penelitian soal efek mengkudu terhadap pengobatan hipertensi. Hasilnya ternyata mengkudu bisa menurunkan hipertensi tersebut,” ungkapnya saat kumparan temui, usai acara Seminar Herbal, yang diadakan di auditorium kampus IV Fakultas Kedokteran Unswagati, Cirebon.

Pengobatan herbal ini rupanya juga jadi konsentrasi Unswagati. Catur mengaku, mahasiswanya sedang banyak melakukan penelitian terutama soal obat herbal. Penelitian ini masuk dalam program kearifan lokal yang dilakukan oleh Unswagati.

Konsistensi yang sedang dibangun oleh Unswagati terebut sejalan dengan misi Sido Muncul yang ingin obat herbal bisa eksis di dunia internasional.

“Dasarnya kedatangan kami selalu untuk bekerjasama dengan kedokteran Indonesia. Supaya mereka juga berpartisipasi dengan pengusaha-pengusaha obat tradisional. Ini sesuai dengan misi FK Unswagati yang mau mengembangkan kearifan lokal. Pemanfaatan herbal ini keuntungannya banyak, salah satu negeri ini sumber hayati terbanyak, semakin banyak kalangan akademisi yang ikut maka semakin baik. Bermanfaat untuk kesehatan dan negeri kita sendiri,” jelas Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat.

Dukungan terhadap obat herbal khas Indonesia juga dinyatakan Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc. selaku Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM RI. Maya mengatakan, BPOM kerap memberikan pendampingan dengan menggandeng ‘bapak angkat’ perusahaan seperti Sido Muncul.

“Para produsen yang mungkin masih kecil-kecil itu kita berikan pendampingan. Kita minta ada beberapa industri yang menjadi bapak angkat, salah satunya Sido Muncul. Mereka memberikan training soal jamu gendong, belajar mengenai sanitasinya, cara pembuatan, produksi, pembibitan, pengeringan, hingga cara menyajikannya yang baik,” tutur Maya.

Produk Sido Muncul di Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati), Cirebon. Foto: Azalia Amadea/Kumparan

Saran untuk mengonsumsi produk herbal juga digencarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Dr. dr. Ina Rosalina, Sp.A (K)., M.Kes., MH.Kes. selaku Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kemenkes RI mengatakan, obat herbal bisa jadi upaya pencegahan agar tak sakit terutama di tengah banyaknya orang yang saat ini imunitasnya sedang menurun.

“Saat ini kita membutuhkan obat herbal yang bersifat imunomodulator (bisa meningkatkan imun) untuk menyehatkan badan. Misalnya, tanaman meniran atau temulawak bisa dikonsumsi dengan dibuat ramuan tradisional atau jamu sendiri di rumah. Kementerian Kesehatan mencoba mengajak masyarakat, untuk bisa menjaga diri, dan keluarganya dengan memanfaatkan bahan yang ada di rumah,” tutur dokter Ina.

Seminar Herbal Sido Muncul di Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati), Cirebon. Foto: Azalia Amadea/Kumparan

Pemaparan soal pemanfaatan Seminar Herbal ini juga dinilai baik oleh salah satu peserta bernama Dadan (29). “Dengan mengikuti seminar ini ada pengetahuan baru yang saya dapat. Mulai dari pemaparan pemerintah, aturan-aturan dari BPOM soal pengembangan obat khususnya pendekatan herbal. Sido Muncul juga memaparkan soal penelitiannya di UGM dan ternyata produknya diakui aman. Sehingga kita enggak ragu lagi untuk kembali ke herbal, kalau sudah parah banget baru mungkin bisa ke pengobatan medis,” pungkas laki-laki yang juga menjadi staf di Unswagati itu.

Potensi pemanfaatan obat herbal di Indonesia memang besar. Kekayaan hayati tersebut bisa menjadi pelindung masyarakat di tengah banyaknya gangguan penyakit saat ini. Dengan mencegah dan mengonsumsi obat-obatan herbal, bisa membantu menjaga kesehatan, sekaligus menjadikan Indonesia yang lebih sehat.